Thursday, February 7, 2013

Menghilangnya Kunang-Kunang Sebagai Contoh Deplesi Keanekaragaman Hayati



Serangga merupakan mahluk hidup yang paling lama hidup di muka bumi ini. Dari zaman prasejarah hingga saat ini serangga masih dapat kita lihat. Mahluk ini bertahan hidup berdasarkan faktor fisik seperti cuaca, kelembapan, jumlah bahan makanan, dan predator. Mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar walaupun lingkungan tersebut sedang mengalami perubahan musim. Mereka dapat ditemukan di Negara beiklim tropis maupun beriklim subtropics. Dengan factor ketahanan yang cukup baik tersebut, tidak heran  kita dapat lihat tempat hidup mereka dibumi dapat di bedakan berdasarkan volume daratan, air, udara dimana dibatasi oleh batasan-batasan alam seperti iklim, proses ekologi  dan fungsi mereka pada lingkungannya, atau mudahnya kita sebut sebagai ekosistem. Ekosistem mereka sangat beragam mulai dari gurun, hutan, padang rumput pegunungan bahkan di kota besar pun kita dapat menemukan serangga dengan mudahnya. Bahkan sebagian serangga dapat mudahnya hidup di ekosisitem yang didominasi oleh air seperti kolam, danau, dan aliran sungai.

Keberadaan serangga di bumi sangat vital untuk  menjaga keseimbangan ekosisitem di alam. Sebanyak 56 persen dari jumlah mahluk hidup di bumi yang adalah serangga Jumlah serangga ditaksir berjumlah tak kurang dari 751.000 spesies dari sekitar 1,4 juta spesies hewan maupun tumbuhan. Jadi bisa kita bayangkan betapa beragamnya jenis dari serangga tersebut. Ukuran mereka boleh dibilang kecil namun peranan mereka pada kehidupan sangat besar. Bayangkan lah jika mahluk mungil ini tidak diizinkan hidup di bumi ini, tentu kita tidak akan mendapati sayuran, buah-buahan untuk dimakan. Secara umumnya mereka membantu kita untuk proses penyerbukaan. Beberapa jenis serangga berperan sebagai siklus nutrien dan aerasi tanah terhadap unsur Nitrogen dan Oksigen. Keberadaan serangga pada suatu tempat dapat menjadi indikator dari keragaman biodiversitas, kesehatan ekosistem, dan degradasi landscape.

Masihkah anda ingat dengan kunang-kunang? Sebagian dari kita pasti mengenalnya dengan sebutan kuku seta atau cika-cika, di barat kunang-kunang dikenal dengan nama  fireflies atau glow worm. Lalu apakah kunang-kunang itu? Kunang- kunang merupakan serangga yang berasal dari ordo Coleoptera dan famili Lampyridae. Mereka jenis kumbang penghasil cahaya di malam hari. Keunikan dari hewan ini adalah mampu mengeluarkan cahaya berwarna hijau muda dari tubuhnya dimana oleh kalangan ilmuan proses ini dinamakan bioluminescence. Uniknya hanya kunang-kunang jantanlah yang mengeluarkan cahaya dan terbang, sedangkan betinanya melekat di dedaunan dan tanah. Ada lebih dari 2000 spesies kunang-kunang yang di bumi ini. Jumlah terbesar dan beragam ditemukan di Asia  beriklim Tropis, Amerika Utara dan Tengah. Sebanyak 170 spesies ditemukan di Amerika Serikat.
Kebanyakan spesies ini ditemukan di ekosistem darat dan ekosistem perairan. Pada ekosistem darat mereka dapat hidup pada bioma padang rumput, bioma hutan basah. Sedangkan pada ekosistem perairan mereka hidup di daerah aliran sungai. Bioma mengacu pada iklim serta geografis. Didefinisikan sebagai kondisi iklim yang sama di Bumi, seperti komunitas tumbuhan, hewan, dan organisme tanah, dan sering disebut sebagai ekosistem. Beberapa bagian dari bumi memiliki lebih atau kurang yang sama faktor-faktor abiotik dan biotik yang tersebar di wilayah yang luas menciptakan ekosistem yang khas di daerah itu. Kunang–kunang dapat hidup pada Bioma padang rumput yang memiliki ciri curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Sedangkan  pada bioma hutan basah  mereka dapat hidup pada kondisi alam dengan tingkat curah hujan 200-225 cm per tahun. Pada ekosistem perairan mereka hanya hidup di sisi-sisi hilir yang bebas dari pusaran air. Dapat diketahui bahwa mereka hidup pada lingkungan dengan kondisi lembap

Apabila kita menanyakan kepada adik-adik kita yang berada pada sekolah dasar atau bahkan yang masih TK apakah mereka pernah melihat kunang-kunang. Jawaban yang didapat akan beragam. Sebagian besar saya yakin belum pernah melihat langsung bagaimana hewan cantik ini terbang di malam hari. Bagi yang belum melihatnya saya berikan contoh gambar hewan cantik ini. Pertanyaan yang timbul kemanakah kunang-kunang sekarang? Dimanakah mereka berada lalu apa peranan mereka bagi lingkungan sekitar? Diyakini bahwa keberadaan mereka adalah dijadikan indikator sehat tidaknya lingkungan. Binatang ini dapat hidup jika lingkungannya berudara segar, tanahnya subur, dan air jernih. Terbukti dari habitat kunang-kunang yang berada pada tempat berkelembapan udara tinggi. Saat ini diketahui populasi kunang-kunang menurun drastis. Berbagai penelitian ilmiah selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa aktivitas manusia merupakan penyebab utamanya. Tengok saja Habitat mereka sekarang yang sudah berubah fungsinya menjadi  perumahan mewah. Pembukaan hutan dan polusi udara pun  berkontribusi menghancurkan habitat dan sumber makan kunang-kunang. Polusi cahaya yang berasal dari perumahan, toko-toko, dan lampu jalanan menyebabkan kunang-kunang sulit berkomunikasi dengan sesama jenisnya. Berkurangnya sinyal dalam menemukan lawan jenis ini juga mengakibatkan berkurangnya produksi telur kunang-kunang selama satu musim kawin.

Rusaknya ekosistem kunang kunang karena pengelolaan sumber daya alam saat ini lebih difungsikan sebagai mesin uang untuk memperoleh keuntungan finansial bagi pembiayaan pembangunan dan juga investor. Pesatnya pembangunan dengan didukung oleh teknologi yang mutakhir menyebabkan sumber daya alam kita mengalami degradasi, atau yang kita sebut dengan degradasi lingkungan. Dari perspektif ekologi dan lingkungan hidup degradasi lingkungan dicirikan dengan menurunnya kualitas dan kuantitas dari kondisi lahan,, air, udara, tanah dan aspek fisik lainnya yang dapat menghadirkan krisis permasalahan lingkungan hidup dan penurunan kualitas lingkungan hidup dari waktu kewaktu (Marfai, 2012). Jika degradasi lahan ini kita biarkan saja akan mengancam keberagaman hayati. Deplesi keberagaman hayati adalah semakin menipisnya sumber daya alam seperti spesies akibat dari kebobrokan atau kerusakan, hasil dari perilaku manusia baik secara sadar atau tidak karena oleh mengejar keuntungan pribadi dalam jangka pendek adalah salah satu masalah yang paling mengganggu dari keadaan darurat planet situasi saat ini (Brown, 1998; Folch, 1998). Dikaitkan dengan keberadaan kunang-kunang di lingkungan kita mungkin memang terbukti bahwa mereka adalah salah satu contoh nyata deplesi keanekaragaman hayati. Habitat dirusak,sumber makanan mereka hilang. Sedangkan siklus kehidupan mereka adalah lingkungan alami yang jauh dari massivenya pembangunan.

Banyak orang yang rindu akan kemisteriusan dan pesona cahaya kunang-kunang di malam hari. Akankah kita membiarkan degradasi lahan tetap berlangsung yang berakibat terhadap deplesi keanekaragaman hayati. Apakah kita rela apabila generasi masa datang yang menanggung konsekuensi dari kerusakan alam yang kita timbulkan saat ini, dan menjadi generasi dengan tingkat  kesejahteraan lebih rendah. Jawabannya saya kembalikan lagi kepada anda sekalian sebagai manusia yang berbudaya.


Daftar Pustaka


Bahan Ajar Dasar Ekologi
Finalis Artikel Populer “All About Insect” 2012Kunang-kunang, Membingungkan, Mempesona, dan Terancam Punah” Sari Nurulita
Marfai, Muh Haris. 2012. Pengantar etika lingkungan dan Kearifan Lokal: Gajah Mada University Press